… feel the art and find its love each day
26 Apr

(Ritual sembahyang)
Mengawali hari, terlihat seorang wanita memberikan persembahaan di sebuah sanggah, di tengah sawah yang hijau dan tenang. Sebuah ungkapan syukur atas segala hal yang telah diterima dari Yang Maha Kuasa, untuk membawa kebaikan bagi seluruh anggota keluarga bagi umat Hindu.
Mengawali hari di Bali memiliki kesan yang tersendiri, di mana alam masih hijau, kicauan burung masih terdengar dan aroma rumput masi tercium. Bersyukur bisa berada di tengah alam yang hijau. Ketika matahari mulai muncul, orang-orang mulai beraktivitas sehari-hari. Ada yang pergi ke sawah untuk bertani, ada yang berjualan di pasar-pasar tradisional.
Keasyikan terasa saat menyaksikan sebuah sekolah dasar yang dipenuhi oleh anak-anak SD yang hendak menuntut ilmu. Wajah-wajah mereka terlihat ceria. Ada yang diantar orang tua, tapi juga ada yang pergi sendiri dengan berjalan kaki dan naik sepeda. Wajah-wajah yang sangat natural. Mereka berlarian ke sana ke mari, berkejar-kejaran dengan kawan-kawannya. Jadi flash back ke masa lalu.
Kalau sudah jam kerja, huh, jalanan jadi macet! Banyak kendaraan lalu lalang di jalan. Ditambah lagi dengan jalanan Bali yang sempit, urat jadi menegang berkonsentrasi dalam berkendara. Terlihat pak polisi sibuk mengatur lalu lintas yang padat. Kasihan pak polisi, yang sabar ya pak!
Tapi biar bagaimana pun Bali tetaplah Bali, yang Bersih Aman Lestari Indah.
21 Feb

(Dua wanita paruh baya sedang bercakap-cakap)
Wanita Bali dikenal dengan eksotisme yang menjadi daya tarik tersendiri dan menjadi ciri khas yang melekat pada sosoknya. Menjelang hari raya, nampak wanita-wanita Bali menjunjung persembahannya di atas kepala mereka seiring sejalan menuju Pura. Mereka juga bergotong royong untuk mempersiapkan festival keagamaan. Semuanya mengenakan pakaian adat dan terlihat menawan.
Wanita Bali di Masa Lalu dan Sekarang
Di abad yang lalu, wanita Bali sering terlihat bertelanjang dada. Secara tradisional hal ini bukan suatu hal yang tidak sopan di masa itu, tetapi menutup bagian kaki mereka adalah suatu keharusan. Di masa sekarang, banyak wanita Bali yang sudah tidak lagi mengikuti gaya berpakaian seperti itu, hanya saja untuk mengunjungi candi/pura di Bali tetap disarankan untuk menutupi bagian kaki mereka.
Wanita Bali dan Tarian
Penari-penari Bali belajar menari dari ibu-ibu mereka, dimulai sejak mereka berusia sekitar 10 tahun. Menciptakan keselarasan antara gerakan dan musik gamelan membuat mereka tampak elegan dalam balutan pakaian tradisional. Tari Legong selalu dimainkan oleh gadis-gadis yang belum menginjak masa pubertas mereka. Mereka mulai berlatih keras pada sekitar usia 5 tahun. Penari-penari ini dianggap tinggi di masyarakat dan biasanya menjadi istri tokoh kerajaan atau pedagang kaya.